Overblog Follow this blog
Edit post Administration Create my blog
bibspajalhay

bibspajalhay

bibspajalhay

Pacuan Kuda Bantul : Kejuaraan Tahunan Bantu Perwisataan Bantul

Pacuan Kuda Bantul : Kejuaraan Tahunan Bantu Perwisataan Bantul

Pacuan kuda sudah menjadi cabang olah raga sejak berabad-abad yang lalu. Olah raga ini melibatkan satu joki dan satu kuda pacu. Sang kuda dilatih agar secepat-cepatnya memacu derap langkahnya menuju garis akhir mengalahkan peserta lainnya. Pacuan kuda juga bisa dimodifikasi dengan alat lain, seperti halnya balap kereta kuda yang populer di jaman Romawi Kuno.

Pacuan kuda juga telah terkenal di kalangan bangsa Nordik melalui mitos dewa dewinya. Menurut mitologi Nordik, dewa Odin dan raksasa Hrungnir mengadakan pacuan kuda untuk mencari tahu siapa kuda tercepat di jagad Asgard.

Hal miring tentang pacuan kuda adalah betapa olah raga ini sering diidentikkan dengan judi. Padahal, di satu sisi, olah raga ini merupakan olah raga para raja.

Di Indonesia, sejarah pacuan kuda kemungkinan dimulai pada tahun 1970-an, pada saat dibukanya gelanggang pacuan kuda di Pulo Mas, Jakarta Timur. Sepuluh tahun kemudian, gelanggang ini ditutup karena pacuan kuda dijadikan sebagai sarana perjudian, kegiatan terlarang di Indonesia.Pacuan kuda masih cukup popular di Bima, NTB.

Pacuan Kuda Bantul bertempat di samping Stadion Sultan Agung. Pengunjung bisa melihat serunya pacuan kuda yang telah mempunyai kejuaraan tersendiri ini, yaitu Hamengku Buwono Cup. Kejuaraan bertingkat nasional ini sudah dijadikan tolak ukur bagi atlet pacuan kuda untuk bisa berlaga di kancah internasional.

Atlet pacuan kuda menjadikan Hamengku Buwono Cup sebagai salah satu cara untuk melangkah ke kelas yang lebih tinggi. Tidak hanya kuda-kuda asal Daerah Istimewa Yogyakarta saja yang bertanding, kuda-kuda dari luar provinsi bahkan dari luar pulau pun turut menyemarakkan kejuaraan ini.

Hamengku Buwono Cup tidak hanya mengadakan kejuaraan tingkat nasional sekelas KONI tetapi juga mengangkat seni olah raga berkuda. Seni ini selama ini kurang diperhatikan oleh masyarakat, padahal, seni berkuda merupakan sebuah seni yang sudah sangat lama ada.

Lomba pacuan kuda yang menampilkan budaya tradisional adalah lomba kuda bendi. Dalam disiplin olah raga pacu, lomba tersebut disebut “DRAFT” atau “DRAP”. Pacuan kuda Bantul juga menjadi tempat menyelenggarakan lomba pacu kuda Sandel – disebut juga Sandelwood. Kuda-kuda Sandelwood mempunyai tinggi dari 125 sentimeter hingga 140 sentimeter.

Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, membantu keberlangsungan kejuaraan nasional setiap tahun karena percaya akan potensi wisatanya. Kejuaraan kuda pacu bisa menjadi daya tarik wisata Bantul sehingga kabupaten ini mempunyai satu lagi tempat wisata menarik yang bisa dikunjungi.

Untuk menuju daerah wisata pacuan kuda, wisatawan bisa naik bus kota menuju Terminal Giwangan. Setelah itu, wisatawan bisa naik ojek atau taksi ke arah Stadion Sultan Agung. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, jarak antara Terminal Giwangan ke lokasi pacuan kuda adalah kurang lebih 30 menit. Gunakan jasa sewa mobil docar.co.id untuk mengunjungi tempat wisata solo jogja semarang. atau kunjungi link nya di https://docar.co.id/sewa-mobil-jogja

Pacuan Kuda Bantul : Kejuaraan Tahunan Bantu Perwisataan Bantul

Share this post

Repost 0

Comment on this post